Home / Anambas / Kontraktor Jalan SP II Anambas “Eksploitasi” Pekerja

Kontraktor Jalan SP II Anambas “Eksploitasi” Pekerja

Pengerjaan jalan SP II Anambas, Siantan beberapa waktu lalu

Anambas,- Kontraktor pembangunan jembatan Selayang Pandang II (SP II) di Kabupaten Kepulauan Anambas, PT Ganesha Bangun Riau Sarana diduga melalaikan ketentuan penggunaan tenaga kerja serta penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lokasi pekerjaan.

Pihak kontraktor diketahui melibatkan pekerja di bawah umur dan tidak memiliki syarat kompetensi serta tidak diperlengapi dengan alat keselamatan kerja yang standar. Kondisi itu menyebabkan, salah seorang pekerja harian yang sedang bekerja di lokasi pemancangan tiang jembatan, mengalami kecelakaan kerja.

Pekerja bernama La Ode Arif Rahman kehilangan jari kelingking tangan kanannya, akibat terjepit besi pile (tiang pancang-red) pada tanggal 3 Agustus lalu.

Berdasarkan data kependudukan. La Ode Arif berdomisili di Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan. La Ode Arif Rahman tercatat lahir pada bulan Nopember tahun 2002. Saat kecelakaan kerja terjadi, La Ode Arif Rahman ternyata belum genap berusia 18 tahun.

Hal ini menyebabkan PT GBRS selaku kontraktor diduga melakukan eksploitasi, yakni mempekerjakan seorang anak dan menempatkan seorang pekerja tanpa keahlian untuk melakukan pekerjaan yang berbahaya dan tidak menerapkan K3.

PT GBRS diduga tidak mematuhi ketentuan – ketentuan tentang ketenaga kerjaan. Diantara, Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 angka 1. Yakni; “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

Ketentuan selanjutnya diatur pada Pasal 68 Undang-undang nomor 13 tahun 2003, pengusaha dilarang mempekerjakan anak. Dan dalam ketentuan undang-undang tersebut, anak adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 tahun. Pada pasal 74 juncto Pasal 183 UU No. 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan, diatur ancaman pidana lima tahun penjara.

Ketentuan selanjutnya diatur pada Pasal 68 Undang-undang nomor 13 tahun 2003, pengusaha dilarang mempekerjakan anak. Dan dalam ketentuan undang-undang tersebut, anak adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 tahun.

Kegiatan eksploitasi anak, merupakan tindakan yang disoroti secara tajam oleh Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kabupaten Kepulauan Anambas. Ronal Sianipar menilai jika perusahaan memperkerjakan anak di bawah umur dengan tingkat resiko tinggi, merupakan perbuatan jahat.

Dia menyebut, jika ini benar perusahaan harus bertanggung jawab dan akan dikenakan sanksi.

“Perlu dipertanggungjawabkan, karena sudah melanggar undang-undang. Yang kedua kalau dia cedera karena pekerjaan harus ditangani dengan baik. KPPAD siap membantu hal ini” terangnya, Rabu 14/10/20.

Terpisah. Kasat Reskrim Polres Kepulauan Anambas, Iptu Julius Silaen, saat dikonfirmasi oleh media metrosidik menerangkan, kasus tersebut sedang ditangani Polres Kepulauan Anambas dan masih dalam tahap penyelidikan.

“Kasus itu masih kita proses, masih kita selidiki, kita masih minta keterangan beberapa orang, masih berjalan,” terang Julius. Rabu, 14/10/20.

Ia menambahkan, nantinya semua yang terkait dengan hak-hak pekerja dan kewajiban perusahaan akan disampaikan setelah gelar perkara. “Nanti semua akan kita selidiki” tambahnya.

Sementara, itu Direktur Perusahaan PT Ganesha Bangun Riau Sarana, Rafni. R tidak bersedia dikonfirmasi media ini. Bebepa panggilan telpon dan pesan singkat yang dikirimkan belum dijawab.

Belakangan perusahaan yang menang tender pembangunan jembatan SP-II dengan pagu anggaran 72 miliar itu berjanji akan memberikan hak-hak pekerja Seperti Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).

Sumber : metrosidik
Penulis : Fitra
Editor : Edy

Silakan di ShareShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Check Also

Wakil Bupati Anambas Hadiri Acara Kursus Pembina Pramuka

Anambas, SB – Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas menghadiri acara Kursus Pembina Pramuka Tingkat Dasar …