Home / Anambas / “Sang Romo”

“Sang Romo”

Dia bukan Rasis atau Anarkis….
Dia Calon Pemimpin Kepri….

Isu rasis selalu dimunculkan oleh oknum – oknum untuk melakukan pembodohan terhadap masyarakat menjelang Pemilu maupun Pilkada. Isu murahan yang mengundang perpecahan itu acapkali dimanfaatkan membodohi masyarakat. Sehingga masyarakat lebih mengandalkan pendengarannya daripada menggunakan kemampuan analisa sosialnya dalam mengenali karakter setiap calon pemimpin.

Propaganda gelap mengandung SARA itu, semestinya dengan mudah ditepis oleh masyarakat saat ini, yang telah dicerdaskan dari pengalaman memilih calon kepala daerah dan memiliki pemahaman tentang apa yang dibutuhkan dalam sosok seorang pemimpin.

Dalam Pilkada, penentu perkembangan dan kemajuan Kepulauan Riau kedepannya, bukanlah dari slogan visi misi pasangan calon, melainkan seberapa kenalnya masyarakat terhadap calon pemimpin atau pemilik visi misi untuk mengemban amanah yang diberikan menuju kearah kemajuan pembangunan segala sektor dan kesejahteraan masyarakat.

Kesalahan memilih karakter pemimpin hanya membuat visi misi dilaksanakan sebatas catatan diatas kertas tanpa dampak positif bagi mayoritas masyarakat.

Bahkan, janji kampanye tak jarang menjadikan masyarakat sebagai korban harapan palsu. Hal ini disebabkan ketidaktahuan masyarakat membedakan dan memilih antara calon penguasa dengan calon pemimpin.

Penggenapan visi misi tentunya membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki karakter, amanah, cerdas, tegas, kuat dan pemaaf.

Agar kita tidak menjadi korban propaganda negatif. Patut kita kenali lebih dalam siapa pria yang akrab disapa Romo ini, sebagai kontestan calon Gubernur berpasangan dengan IMAN SUTIAWAN, S.E., M.M pada Pilkada Kepri tahun 2020 ini. Sebab, demikianlah pantun rumpun melayu.

“Bila berselisih buat tak cakna,
Sungguhpun sudah bertentang mata,
Benarlah sungguh pujangga Cina,
Jika tak kenal maka tak cinta”

(*) Dr. H.M. SOERYA RESPATIONO, S.H., M.H.
(calon Gubernur Kepulauan Riau Periode 2020 – 2024)

Mengawali karir politiknya sejak tahun 2000 dan mengemban amanah dari masyarakat Kota Batam sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batam Periode 2000 – 2004, menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batam pada periode tersebut.

Tahun 2005, mengambil langkah dan tantangan politik, Soerya Respationo maju menuju kancah Pilkada Kepri sebagai calon Wakil Gubernur berpasangan dengan Nyat Kadir, mendapatkan 172.923 suara, melawan pasangan Ismeth Abdullah – H. Muhammad Sani, mendapatkan 309.119 suara dan pasangan Rizal – Iman mendapatkan 27.522 suara.

Meski kalah pada tahun 2005. Pada Tahun 2010, nama Soerya Respationo tetap diusung sebagai calon Wakil Gunernur di Pilkada Kepri berpasangan dengan HM Sani sebagai Calon Gubernur. Pasangan ini dipilih oleh masyarakat untuk memimpin Provinsi Kepulauan Riau selama lima tahun, priode 2010 – 2015.

Pada tahun itu, Soerya Respationo dalam karir politiknya secara resmi menjabat Ketua DPD Partai PDI Perjuangan di Provinsi Kepulauan Riau periode 2010 – 2015.

Tahun 2015, Soerya Respationo mengambil langkah maju menuju kursi Calon Gubernur berpasangan dengan Anshar Ahmad sebagai calon Wakilnya melawan pasangan H Muhammad Sani – Nurdin Basirun pada Pilkada Kepri tahun 2015.

Pertarungan dua pasangan dengan selisih suara 10 persen, dimenangkan oleh pasangan terpilih priode 2015-2020, HM Sani – Nurdin Basirun sebanyak 347.515 suara. Pasangan Soerya – Anshar memperoleh suara total 305.688 suara.

Pada tahun 2015, Soerya Respationo kembali terpilih menjadi Ketua DPD Partai PDI Perjuangan Provinsi Kepulauan Riau periode 2015 – 2020.

Tahun 2020 ini, Ketua DPD Partai PDI Perjuangan Provinsi Kepulauan Riau periode 2019 – 2024 HM Soerya Respationo tetap bertekad untuk memimpin dan membangun Provinsi Kepulauan Riau dengan ikut menjadi konstestan dalam Pilkada Kepri sebagai calon Gubernur Kepulauan Riau berpasangan dengan Iman Sutiawan sebagai calon Wakil Gubernur Kepulauan Riau periode 2020 – 2024.

Selain kehidupan politik. HM Soerya Respationo juga berbaur dengan segala lapisan masyarakat, tanpa memandang bulu. Baginya semua adalah saudara.

Dan, tentunya seorang pemangku adat dan budaya pastinya memiliki jiwa yang hormat terhadap adat dan budaya yang ada dan tahu untuk bersikap “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”

(EEMM)

Silakan di ShareShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Check Also

Kapolri Pimpin Tim Koordinasi Interpol Indonesia

“Akan dikukuhkan kembali keanggotaan Tim Koordinasi Interpol yang terdiri dari 80 kementerian, 7 lembaga pemerintah …