Home / Sumut / Bukalah Jendela Hatimu, Apa Sih Susahnya Membahagiakan Anak Panti Asuhan?

Bukalah Jendela Hatimu, Apa Sih Susahnya Membahagiakan Anak Panti Asuhan?

Catatan oleh:
Budi Ardiansyah SE
(Wartawan suarabirokrasi.com – Biro Labuhanbatu- Sumatera Utara)

BAHAGIA itu sebenarnya cukup sederhana, hanya dengan berkumpul dan bercerita saja dapat melahirkan kebahagiaan yang luar biasa. Tak jarang, lapisan orang yang bertemu di ruang kerja hingga berpadu di meja kedai kopi, akan menikmati dampak radiasi kebahagiaan. Kendati demikian, masih banyak pihak yang menilai untuk menciptakan kebahagiaan itu sulit dan mahal.

Tentang bahagia, juga adalah milik semua orang tanpa mengenal agama, batas umur maupun tingkat status sosial. Sehingga muncul persoalan, apakah anak panti asuhan juga berhak untuk mendapatkan asupan kebahagiaan? Dari lubuk hati kita yang terdalam pasti meng-iyakan pertanyaan konyol ini.

Namun, kita kerap terlena untuk dapat memercikkan secuil saja ungkapan kebahagiaan kepada anak- anak yang tinggal di sejumlah Panti Asuhan, yang sejak dibesarkan nyaris buta dengan perkembangan dunia luar dan hanya mengenal pihak Yayasan sebagai ‘ayah-ibu’ mereka. Meskipun disetiap kesempatan, baik bertatap muka maupun melihat kondisi anak panti asuhan melalui Media Sosial, kerap terbersit di benak kita dengan melihat pandangan kosong di wajah mereka, seakan tersirat satu makna yang mengemukakan ‘Kami menunggu gapaian genggaman tangan ikhlasmu Bapak-Ibu’.

Disini, penulis mencoba mengajak pembaca untuk memaknai sikap gaya anak panti asuhan di Labuhanbatu yang telah mendapat seberkas sinar kebahagiaan dari ‘belaian’ tangan pemerintah setempat. Dan, semoga ringkasan ini menjadi dorongan semangat buat masyarakat untuk bisa terus bahagia serta membahagiakan orang lain khususnya anak panti asuhan.

Berangkat dengan rasa niat tulus, Bupati Labuhanbatu H. Andi Suhaimi Dalimunthe ST, MT, bersama isteri Hj. Rosmanidar Hasibuan, Sabtu (28/9/2019) sore, telah berupaya membagikan sedikit kebahagiaannya dengan cara mengajak sebanyak 120 anak yatim piatu, yang berasal dari Panti Asuhan Putera Muhammadiyah dan Panti Asuhan Puteri Siti Khadijah Rantauprapat.

Setelah menelusuri pola sikap ratusan anak asuh yang dibawa nonton bareng film “Hayya The Power of Love 2” di Suzuya Rantauprapat Mall ini, banyak mempertontonkan bahasa tubuh anak panti yang tak biasa. Ironinya, hanya untuk menyantap makanan yang telah disediakanpun, mereka masih ragu akibat ketidak-biasaan mendapati suasana umum di lokasi tersebut.

“Sebelum nonton bareng, kami makan terlebih dahulu. Mereka (anak panti asuhan) masih canggung mendapati situasinya, tidak berani memulai untuk makan, padahal sudah dipersilahkan berulang kali. Mereka terlihat masih berupaya menyesuaikan diri dengan restoran,” sebut Ketua DPD KNPI Labuhanbatu Hamzah Sya’bani Nasution S.Pd, mengisahkan.

Teks foto: Bupati Labuhanbatu H. Andi Suhaimi Dalimunthe ST,MT, ketika membukakan paket nasi untuk anak Panti Asuhan.

“Mereka tidak memulai makan, juga beralasan karena takut salah membuka nasi kotak paket KFC itu, sebab, mereka belum pernah makan seperti itu di asrama. Mendengar jawaban ini, saya hanya mengelus dada, dan bermohon kepada Allah semoga dibukakan pintu hati kita,” bilang anak Ketua PD Muhammadiyah Labuhanbatu ini, yang juga turut pada kegiatan tersebut.

Namun, disela kecanggungan itu, tampak terselip rasa bahagia yang sangat diwajah mereka. Terlebih disaat memilih judul makanan dan minuman, tanpa sadar, merekapun masih terlihat kebingungan, hingga ada seorang anak yang dengan polosnya memesan minuman segelas air putih saja. Dia mengatakan, kata ‘Ayah’ mereka dipanti, bahwa air putih adalah minuman yang menyehatkan.

Mendengar jawaban ini, decak haru pramusaji di restoran itupun memaksakan dirinya memberanikan diri ‘mengelus’ kepala bocah yang diperkirakan masih berumur puluhan tahun tersebut, seraya mengatakan, ” adik boleh pesan apa saja, nanti air putihnya kakak kasi gratis ya, yasudah mau pesan apa?,” seraya dijawab, dia mengganti pesanannya dengan 1 Jus Jeruk dingin.

Lanjut Hamzah, berbeda dengan Susi yang masih berumur 7 tahun, dimana sejak berumur 2 tahun telah hidup di Panti Asuhan Siti Khodijah Rantauprapat, situasi ini, menjadi momen paling bahagia buatnya. Sebab, dia sejenak telah mendapatkan pelukan manja dari seorang ‘ayah’ yang tak lain adalah Bupati Labuhanbatu, meskipun dia tidak menyadari bahwa setelah berakhirnya acara ini, ia akan kembali lagi ke asrama dan menjalani kehidupannya seperti biasa.

Masih tentang Susi, ibarat mendapat ‘SMS’ batin dari temannya, ia pun memberanikan diri memohon kepada Ketua TP PKK Labuhanbatu, Hj. Rosmanidar Hasibuan, untuk diperbolehkan memesan 1 porsi lagi telur gulung dan berencana akan diberikan kepada temannya yang tinggal di asrama karena sakit.

Teks foto: Bunda PAUD Labuhanbatu, Hj. Rosmanidar Hasibuan, ketika bercengkrama dengan anak panti asuhan.

“Bunda, saya boleh pesan telur gulungnya dibungkus, untuk teman satu kamar saya, kasihan dia sedang sakit. Kami makan enak disini, tapi dia tinggal di asrama,” harapnya, seraya di-iyakan Hj. Rosmanidar, serta merta menghadiahkan kecupan di kening dan pelukan penuh kasih sayang terhadap Susi.

Ketika kita mencoba melirik ditempat lain, Ustadz Ismayuddin S.Ag, Ketua Yayasan Panti Asuhan Al-Arif Padang Matinggi Kecamatan Rantau Utara- Labuhanbatu, mengemukakan keterbutuhan anak panti bukan hanya semata untuk makan dan minun saja, namun, juga dibutuhkan ruang harmonisasi berbentuk asupan edukasi dan kasih sayang.

Memaknai narasi tersebut, dirasa perlu adanya konsentrasi lain pihak pemerintah daerah melalui OPD, untuk dapat berkontribusi dalam menghidupkan pola fikir anak panti asuhan menjadi komunitas yang tidak tertinggal. Semisal, dengan menggelar pelaksanaan event olahraga, kegiatan pendidikan, kesehatan maupun bidang lainnya di lingkungan Panti.

Tentu saja, realisasinya akan dapat melahirkan banyak faktor yang berdampak positif terhadap perkembangan dan watak serta cara berfikir anak asuh, sehingga diharapkan mampu menyasar kepada peningkatan SDM dan prestasi putera-puteri yang berada di lingkungan panti asuhan tersebut.

Melihat kondisi hari inipun, diharapkan dapat meluluh lantakkan ego kita, yang selalu terus merasa kekurangan akan nikmat yang telah diberikan sang pencipta. Mari kita renungkan sedikit saja keperihan yang anak panti rasakan, rindu akan belaian kasih sayang dan sangat membutuhkan dekapan ayah bunda. Dengan ringkasan ini, semoga menjadi efek kontaminasi bagi kaum kaya dan intelektual, serta terus menyasar hingga dapat memperhatikan kehidupan para penghuni di Panti Asuhan, Aamiin. (*)

Silakan di ShareShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Check Also

Hari ke 5, Perwakilan Marga Kunjungi Soerya Respationo

Batam,-Memasuki hari ke lima, acara silaturahmi bersama tokoh Punguan Marga-marga Batak di Batam yang berlangsung …