Home / Sumut / Antara Jenderal Hoegeng dan Kapolres Labuhanbatu AKBP Frido Situmorang

Antara Jenderal Hoegeng dan Kapolres Labuhanbatu AKBP Frido Situmorang

Catatan Oleh: Budi Ardiansyah
( Suarabirokrasi – Biro Labuhanbatu )

MENGAMBIL tafsiran dari kehidupan sehari-hari, dapat disimpulkan bahwa Polisi juga manusia dan masih banyak yang punya rasa belas kasih serta cinta akan kedamaian. Tujuannyapun untuk tetap berupaya secara terus menerus menjadikan POLRI sebagai simbol dan tekad untuk mengabdi.

Memang, sosok Polisi yang murni berwujud sebagai individu sosial sangat jarang di dapati dalam konteks berkehidupan. Pernah ada, seorang Jenderal Polisi bernama Hoegeng Imam Santoso, yang menjabat Kapolri ke-5 sejak 9 Mei 1968 hingga 2 Oktober 1971 silam.

Jenderal Hoegeng, lahir di Pekalongan Jawa Tengah, pada 14 Oktober 1921 dan meninggal di Jakarta 14 Juli 2004 dengan masa hidup selama 82 tahun. Beliau ini adalah merupakan salah satu tokoh Kepolisian Indonesia yang juga turut menandatangani Petisi 50. Atas dedikasinya sebagai polisi jujur yang melahirkan format ‘Polisi Komunitas’, namanya kini di abadikan sebagai simbol Rumah Sakit di Mamuju yang bernama Rumah Sakit Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso.

Figur kharismatik inipun menjadi kerinduan di tubuh POLRI, hingga akhirnya dapat didefenisikan telah muncul wajah baru di Kabupaten Labuhanbatu- Provinsi Sumatera Utara, yang mengikuti jejak Jenderal legendaris tersebut. Dia adalah Kapolres Labuhanbatu AKBP Frido Situmorang SH,SIK.

Kemiripan konsep kepolisian sebagai pelaku sosial yang dimiliki Jenderal Hoegeng, juga bersarang dibenak Frido. Tidak ada alasan baginya untuk membiarkan masyarakat yang susah dan sakit, padahal dia bukan seorang Kepala Daerah yang mesti bertanggungjawab dan menjamin kesehatan dan kelangsungan hidup orang banyak.

Kendati seiring berlalunya waktu, telah banyak aura positif yang terus mengalir lewat tangan ‘dingin’ AKBP Frido, seperti tercatat dalam perjalanan dirinya menjabat Kapolres selama 35 bulan di wilayah hukum Polres Labuhanbatu. Tak sedikit pula kesempatan yang telah dihabiskan untuk terus ber-evolusi menciptakan Polisi sebagai figur sebenar-benar pengayom dan pelindung masyarakat.

Kultur agama dan budaya serta adat istiadat tidak menjadi persoalan bagi Frido, untuk membuktikan bahwa Polisi dapat menjadi bagian yang tak terpisahkan, dalam berinteraksi sebagai poros terciptanya masyarakat yang peduli akan lingkungan, baik dalam konsentrasi peningkatan Kamtibmas maupun menumbuhkembangkan sikap toleransi saling tolong menolong antar sesama. Tindakan berbuat secara spontanitas yang dilakukannya ini pula, laik untuk dijadikan panutan terhadap calon- calon jenderal lainnya.

“Dia (AKBP Frido) ini beda, ibarat Jenderal Hoegeng, dia ini sudah terbilang lengkap seperti jelmaan mantan Kapolri itu,” sebut Pengamat Kepolisian Labuhanbatu Raya, Harris Nixcon Tambunan SH, Jum’at (6/9/2019).

Defenisi yang di implementasikan itupun jelas beralasan, dimana sosok AKBP Frido dikategorikan sebagai seorang pelopor Polisi Komunitas dengan dorongan individu sosial yang kuat, serta mampu ‘bergelora’ diantara kemajemukan wilayah dan memiliki ciri khas tersendiri.

Sistem kemandirian POLRI juga lebih bergairah dibawah komandonya, dengan fokus utama menciptakan pengaruh positif ditengah- tengah masyarakat. Tentu saja, dapat dinilai terjadi peningkatan pola sebanyak 42% terhadap rasa kepercayaan masyarakat kepada polisi di Labuhanbatu Raya.

“Dia itu telah merealisasikan sosok Polisi Komunitas, dia juga berhasil memperlihatkan kepada masyarakat seperti apa sebenarnya polisi sebagai orang sosial. Ini dinilai dari sisi prilaku dan dari sisi dia sebagai pembina polisi di wilayahnya,” kata Praktisi Hukum Labuhanbatu ini.

Ada hal yang paling menarik untuk di maknai, seperti seluruh kegiatan sosial dan humanis yang telah dilakukan, tentu sangat menjadi pengaruh dalam mempertegas tujuan POLRI sebenarnya. Peluang yang ada tidak pernah menjadi momen mubazir, di samping melibatkan jabatan sebagai sarana untuk berbuat, Frido lebih mengedepankan prioritas mengamankan wilayahnya.

“Secara jujur, Saya pernah tidak sefaham dengan dia (Kapolres) tentang penerapan hukum, namun kita harus objektif melihat seluruh kapasitas yang telah dilakukannya. Nampak nilai-nilai yang dibangunnya sangat terasa di masyarakat. Dan atas apa yang diperbuatnya selama ini dapat didefenisikan, ternyata, 35 bulan dia menjabat, telah menciptakan polisi komunitas. Semoga dimasa mendatang akan kembali lahir Frido- Frido baru sebagai jelmaan (Alm) Jenderal Hoegeng,” bilangnya.

Nyata saja, kendati dalam kondisi menghitung hari untuk proses mutasi dirinya yang kini dipercaya menjabat Wadir Pam Obvit Polda Jambi, Frido masih menyempatkan untuk melakukan aksi sosial yang mengedepankan rasa ikhlas.

Dimana, setelah viral di Media Sosial ( Medsos) tentang video sepasang kakak beradik lusuh yang berasal dari keluarga miskin, dengan wajah murung sang kakak terlihat menggendong adiknya dalam kondisi sakit.

Tentunya, hati siapa yang tak hiba dan mengelus dada ketika melihat video berdurasi semenit tersebut. Bahkan, setelah mendengar pesan yang sempat viral inipun, AKBP Frido memerintahkan Jajaran Polsek Kualuh Hulu untuk mencari lokasi domisili sepasang kakak adik dimaksud, yang diketahui berada di wilayah hukum Polsek setempat.

Akhirnya, Echi Br Sirait (11) dan adiknya Yabes Sirait (7), Warga Dusun Pardomuan Nauli II Desa Sialang Taji, Kecamatan Kualuh Selatan Kabupaten Labura- Sumatera Utara, ditemukan dan langsung dibawa kerumah dinas Kapolres Labuhanbatu, untuk bertemu dengan AKBP Frido.

Sejatinya, dalam pertemuan tersebut, Frido pasang badan untuk siap membawa kakak beradik yang ditinggal kedua orang tuanya akibat perceraian. Namun, konsentrasi humanis ini masih dalam proses menunggu realisasi, karena terhalang seorang nenek pembuat sapu lidi yang selama ini merawat mereka.

“Biar saya bawa, saya akan menyekolahkan mereka, saya tidak akan larikan mereka, kalau suatu saat rindu boleh pulang. Saya dulu juga orang susah, hati saya tidak kuat melihat mereka pada video di medsos itu. Mungkin ini jalan Tuhan mempertemukan mereka dengan saya,” ucap AKBP Frido Situmorang, sambil memangku kedua anak tersebut, Sabtu (7/9/2019), malam.

Masih saja, sang nenek tetap bersikeras untuk tidak mengizinkan kedua cucunya itu, agar dapat turut serta bersama AKBP Frido ke Provinsi Jambi dan bersekolah disana, dengan alasan mohon diberi waktu kepada dirinya untuk berfikir.

Mungkin ini adalah momen terakhir untuk AKBP Frido mempertontonkan sikap solidaritas level tinggi di wilayah hukumnya. Dapat dipastikan ‘gaya’ Frido ini pula akan dirindukan masyarakat, dan seharusnya patut dijadikan contoh dan teladan bagi orang-orang kaya serta pejabat lain yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Raya.

“Biar lebih jelas untuk orang diluar sana, coba tanya saja langsung sama masyarakat di Labuhanbatu Raya, tanya juga Ulama, FKUB, Ormas, OKP, dan wartawan juga tanya, bagaimana pak Frido selama 35 bulan menjabat Kapolres disini? saya yakin, tidak akan ada yang salah memberikan jawaban,” sebut H. Syarifuddin Tanjung, Tokoh Masyarakat  Kabupaten setempat. (*)

Silakan di ShareShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin