Home / Riau / ADD Digunakan Pemerintah Desa Teluk Pulai Membangun Jalan Menuju Sekolah 

ADD Digunakan Pemerintah Desa Teluk Pulai Membangun Jalan Menuju Sekolah 

Fhoto Datuk Penghulu Teluk Pulai Panipahan Mustafa Husin, kemudian fhoto jalan menuju Sekolah Methodist yang di bangun.

Rohil, SB – Bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan. Pemerintah Desa Teluk Pulai, Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), Kabupaten Rokan Hilir, Riau membangun sarana jalan menuju sekolah, dengan menggunakan dana kepenghuluan (DK) tahun anggaran 2019.

Adapun sarana jalan yang dibangun Pemerintah Desa Teluk Pulai merupakan pembangunan pelataran beton Jalan Methodist RT/RW 002/001 dengan volume 25 meter dan lebar 3 meter.

Lokasi pembangunan berada di Dusun 01 Jalan Methodist dengan besaran biaya mencapai hampir Rp 200 juta dengan pelaksana tim pengelola kegiatan (TPK) desa setempat. Demikian hal itu disampaikan Datuk Penghulu Teluk Pulai, Mustafa Husin, kepada kru media ini, ketika dikonfirmasi, Selasa 23 Juli 2019.

Menurutnya sarana jalan itu dibangun berdasarkan pertimbangan dan musyawarah bersama, juga dari sisi kemanusiaan serta permintaan dari beberapa masyarakat yang tinggal di wilayah itu, juga memang akses menuju sekolah di wilayah itu.

Aturan mainnya, terangnya, pembangunan melalui anggaran dana desa (ADD) adalah berdasarkan peraturan menteri dalam negeri untuk menyusun rencana pembangunan jangka menengah (RPJM).

Untuk itu dia  mengimbau kepada setiap Dusun di wilayah kerjanya, baik RT, RW, masyarakat, maupun tokoh agama dan BPKep, atau perwakilan daerah setiap dusun, dapat memberikan ide maupun sumbangsi pemikiran apa yang dapat di bangun di daerah itu dengan menggunakan dana desa.

Kata Mustafa, sebelum dibangun, sebelumnya juga telah digelar musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). Termasuk pembangunan jangka menengah untuk 5 tahun kedepan. “Salah satunya ya jalan Methodist, itu,” imbuh dia.

Pemerintah Desa Kepenghuluan Teluk Pulai mengaku menindaklanjuti pembangunan jalan melalui kajian dan peninjauan di lapangan. Sebab katanya, aturan dana desa itu tidak boleh membangun diatas objek pembangunan yang dibangun oleh Pemerintah Daerah (Pemda).

“Sementara sama-sama kita lihat disitu kan belum pernah ada sama sekali dibangun oleh pemerintah daerah. Masih papan. Makanya kita bangun. Jadi sudah melalui kajian kajian lah,” terangnya.

Seperti diketahui bersama, sebelumnya jalan sepanjang 50 meter menuju perguruan swasta tersebut terbuat dari bahan bangunan papan, sudah dalam kondisi rusak dan lapuk termakan usia.

“Kalau kita tidak menindaklanjuti pembangunan dari dana desa ini, mungkin mungkin kita adalah termasuk salah satu desa yang tidak peka terhadap daerah, daerah yang mungkin membutuhkan,” pungkasnya.

Selain pembangunan pelataran beton di Dusun 01 Jalan Methodist Teluk Pulai, Pemetintah Desa Teluk Pulau juga melaksanakan pembangunan semenisasi sepanjang 43 meter dan lebar 2,20 meter berlokasi di Jalan Selamat Dusun 04 Teluk Pulai Pasir Limau Kapas.

Kemudian pembangunan gedung perpustakaan lanjutan pemasangan plafon dan keramik dengan volume 37 meter persegi, berlokasi di Jalan Telkomsel Kepenghuluan Teluk Pulai dengan biaya Rp 38 juta lebih dikelola oleh tim pengelola kegiatan (TPK) kepenghuluan setempat.

Selaian itu, kata Mustafa, titik pembangunan berbentuk fisik lainnya yang perlu difasilitasi adalah sala sarana jalan menuju masjid, kemudian jalan pemakaman masyarakat, serta tempat-tempat umum lainnya.

Setiap melaksanakan kegiatan pembangunan fisik melalui dana desa, pihak Pemerintah Desa Teluk Pulai  juga meminta pengawasan dan pendampingan kepada Babinsa maupun Bhabinkamtibmas, termasuk wartawan.

Menurutnya segala kegiatan yang bersumber dari dana desa, dikatakannya alangkah bagusnya setiap kegiatan pembangunan di wilayahnya harus diawasi seluruh elements masyarakat, seperti Babinsa, Kepolisian juga wartawan.

“Berdiri disitu ketika pekerjaan itu berlangsung, biar ada dokumentasinya. Karena sekarang perturan terbarunya kami harus mempublikasikan didepan kantor desa, dokumentasi pekerjaan. Jadi kalau mereka hadir disitu, menurutnya itu lebih menguatkan, dan  bahwa pekerjaan ini bukan pekerjaan atas pemikiran  pribadi, melainkan hasil musyawarah dan padat karya.

“Memang sesuai aturan dan musyawarah bersama. Bahkan setiap pekerjaan, saya minta turun. Seperti di Jalan Selamat saya minta turun babinnya, menurutku lebih bagus tegur dahulu sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Karena yang saya butuhkan adalah pembinaan, sebab tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, kan gitu kan. Jadi Ketika pekerjaan kami sudah di tinjau, artinya bukan kami menganggap kami sudah bersih atau benar 100 persen, ndak. Setidaknya kami sudah berusaha ke arah yang lebih baik. Intinya seperti itu,” kata Mustafa Husin, menuturkan. (man)

Silakan di ShareShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Check Also

Seorang Pemuda Pelaku Pencabulan Anak di Bawah Umur di Rohil Dijebloskan Ke Penjara

Rohil, SB – Pagar makan tanaman, itulah kata-kata yang pantas diberikan kepada seorang pemuda pelaku …