Home / Riau / Sejarah dan Budaya Cheng Beng Bagi Etnis Tionghoa 
Para peziarah melakukan ritual sembahyang Ceng Beng di pekong tua berlokasi lokasi pekuburan di Panipahan, desa Teluk Pulai.

Sejarah dan Budaya Cheng Beng Bagi Etnis Tionghoa 

Para peziarah melakukan ritual sembahyang Ceng Beng di pekong tua berlokasi lokasi pekuburan di Panipahan, desa Teluk Pulai.

Panipahan, SB – Hari ini baru menunjukan sekitar pukul 08.00 WIB pagi, pekuburan Tionghoa yang berlokasi di desa Teluk Pulai, Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau ramai dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai kota, dan daerah di Indonesia.

Pantauan media di lokasi pekuburan China, Teluk Pulai, Selasa 02 April 2019 terlihat di sekitar pekong tua yang berlokasi di sekitar pekuburan dengan hio ditangan para peziarah mulai membakar dupa dan kertas warna kuning emas sembari memanjatkan doa-doa kepada para arwah leluhur mereka. Selain dupa, juga sesajen turut mereka bawa untuk dipersembahkan.

Lisa, bersama suami serta anak datang dari Jakarta mengaku baru pertama kali datang berziarah ke makam nenek moyang mereka di Panipahan. “Kita tinggal di Jakarta. Ini baru tercapai, semenjak menikah, ini baru bawak anak dan suami pulang ke panipahan,” ujarnya.

Sementara, peziarah lainya, Wan Lang (76) asal Kota Tanjung Balai Asahan datang untuk berziarah ke pemakaman nenek moyang untuk melakukan sembahyang leluhur. “Kita sembahyang di sini kakek nenek, bapak mamak,” imbuh dia.

Hari Ceng Beng atau Qing Ming (Hanzi : 清明) adalah suatu hari ziarah tahunan bagi etnis Tionghoa. Hari Ceng Beng biasanya jatuh pada tanggal 5 April untuk setiap tahunnya. Warga Tionghoa biasanya akan datang ke makam kuburan orang tua atau leluhur untuk membersihkannya dan sekalian bersembahyang/pai di makam  tersebut sambil membawa buah-buahan, kue-kue, berbagai macam makanan serta karangan bunga.

Kata Ceng Beng sendiri (dialek hokkian) merupakan salah satu istilah dalam astronomi Tiongkok, yang mengacu pada salah satu dari 24 posisi matahari (节气; jiéqì) yang jatuh setiap tanggal 4-5 April. Pada hari ini cahaya matahari dipercaya akan bersinar paling terang, sehingga cuaca menjadi terasa lebih hangat.

Lalu kenapa di setiap kubur, diatasnya disebarkan/diletakkan kertas perak atau kertas kuning/emas setiap kali selesai dibersihkan?

Konon menurut cerita rakyat, asal mula ziarah kubur atau tradisi Ceng Beng (清明) ini sudah berasal sejak jaman dinasti Han (202 SM – 220 M). Lau perlahan tradisi ini mulai populer pada jaman dinasti Tang (618-907), tepatnya pada masa kepemimpinan Kaisar Xuanzong (玄宗).

Namun penggunaan kertas yang diletakkan diatas kubur (sebagai tanda bahwa kubur sudah dibersihkan/dikunjungi oleh keluarga), berawal dari jaman kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming (1368-1644 M). Zhu Yuanzhang awalnya berasal dari sebuah keluarga yang sangat miskin.

Karena itu dalam membesarkan dan mendidik Zhu Yuanzhang, orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil. Ketika dewasa, Zhu Yuanzhang memutuskan untuk bergabung dengan pemberontakan Sorban Merah, sebuah kelompok pemberontakan anti Dinasti Yuan (Mongol).

Berkat kecakapannya, dalam waktu singkat ia telah mendapat posisi penting dalam kelompok tersebut; untuk kemudian menaklukkan dinasti yang menguasai Tiongkok saat itu, Dinasti Yuan (1271-1368 M) dan akhirnya menjadi seorang Kaisar. Setelah menjadi kaisar, Zhu Yuanzhang kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya.

Sesampainya di desa ternyata orangtuanya telah meninggal dunia dan tidak diketahui keberadaan makamnya.

Kemudian untuk mengetahui keberadaan makam orangtua nya, sebagai seorang Kaisar, Zhu Yuan Zhang memberi titah/perintah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan.

Selain itu, diperintahkan juga untuk menaruh kertas kuning di atas masing-masing makam, sebagai tanda makam telah dibersihkan.

Setelah semua rakyat selesai berizarah, sang Kaisar memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menemukan makam-makam yang belum dibesihkan serta tidak diberi tanda. Kemudian Kaisar menziarahi makam-makam tersebut, dengan berasumsi bahawa di antara makam-makam tersebut pastilah ada yang merupakan makam orangtua, sanak keluarga, dan leluhur nya.

Inilah yang kemudian mendasari penggunaan kertas perak/kertas kuning sebagai penanda diatas kubur, yang kemudian dijadikan tradisi setiap tahunnya dalam memperingati Cengbeng.

Menjelang bulan April umumnya banyak yang bertanya, apakah ada tanggal yang baik/kapan waktu yang baik untuk mengunjungi makam orang-orang yang mereka cintai selama musim perayaan Cengbeng. Bagi sebagian orang juga mungkin perlu menyesuaikan waktu karena harus mengunjungi beberapa lokasi makam leluhur yang terpisah.

Secara tradisional, waktu untuk melakukan ziarah kubur/makam Cengbeng, yakni antara 10 hari sebelum hari Cengbeng dan 10 hari setelah hari Cengbeng (antara 26 maret-15 april). Namun karena kesibukan masing-masing, biasanya puncak perayaan Cengbeng jatuh pada hari minggu terdekat sebelum tanggal 5 April.

Satu hal yang terpenting yang dilakukan saat kunjungan ke makam selama masa Cengbeng, adalah untuk memeriksa masalah terkait fengshui makam; misalnya jika struktur makamnya rusak. Entah itu dibagian bongpay (nisan) nya, atau dibagian karapas (tempurung) yang rumputnya sudah meninggi.

Tentu saja, yang terpenting dari festival Cengbeng ini adalah untuk mengingat orang-orang terkasih yang telah mendahului kita. Selain itu, hari Cengbeng juga merupakan waktu yang tepat untuk berkumpul dan mempererat hubungan bersama sanak keluarga yang datang dari jauh.

Ajaran Konfusianisme menekankan agar memperlakukan orang tua kita dengan BERBAKTI (孝, Xiào); baik semasa mereka hidup, maupun ketika mereka sudah tiada. Untuk menghormati dan menunjukkan tanda bakti kepada orang tua/leluhur, penting untuk membawa beberapa makanan favorit mereka semasa hidup.

Meski sudah berbeda agama atau kepercayaan, bukan berarti sudah tidak perlu datang untuk sekedar sungkem atau sekedar tengok ke makam orang tua. Itu salah besar! Ziarah ke kuburan orang tua tidak ada hubungannya dengan ‘memuja setan’. Semua bisa menyesuaikan sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Ada yang berpendapat bahwa jika sudah masuk agama tertentu, sudah tidak perlu pai/sembahyang ataupun sekedar untuk datang ke kubur orang tua, karena akan dianggap berhala dsb. Mestinya harus diingat juga, bahwa tanpa orang tua, kita-kita ini yang masih hidup tidak mungkin bisa ada di dunia.

Jadi, jangan lupakan orang tua/leluhur kita. Luangkanlah waktu karena Ceng Beng hanya setahun sekali. Tujuan dari perayaan Ceng Beng ini sendiri adalah: Agar supaya semua kerabat dekat, saudara, anak-anak, bisa berkumpul bersama, agar hubungan semakin erat terjalin! Itu seperti memberi kepercayaan diri kepada seseorang, bahwa diantara para orang mati, ada tradisi yang masih hidup.

Ada yang berpendapat juga jika pegang hio/dupa tidak diperbolehkan bagi yang menganut agama tertentu. Hal ini tidak jadi masalah, bisa sungkem saja.

Tapi menurut penulis, jika masih menganggap diri sebagai orang Tionghoa, tentunya tidak masalah hanya untuk sekedar pegang hio. Janganlah terlalu fanatik. Bukankah di dunia ini tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk tidak menghormati orang tua masing-masing?.

Itulah sekelumit kisah terkait sembahyang Ceng Beng yang berhasil dirangkum media ini dari laman Tonghoa.Info. (man)

Silakan di ShareShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Check Also

Seorang Pemuda Pelaku Pencabulan Anak di Bawah Umur di Rohil Dijebloskan Ke Penjara

Rohil, SB – Pagar makan tanaman, itulah kata-kata yang pantas diberikan kepada seorang pemuda pelaku …